Pertanyaan
Bapak semalam menanyakan tentang perjalananku ke Lampung kemarin. Wajar, waktu berangkat aku tak sempat pamit kepada beliau. Awalnya obrolan kami ringan. Hanya seputar bagaimana perjalanan ku dan tentang bagaimana acara ijab-qobul disana.
Namun tiba-tiba cuaca berubah. Langit seolah seketika menghitam. Pertanda hujan segera turun. Embun di mataku nyaris turun. Liurku tiba-tiba berubah menjadi benda keras berduri tajam. Sangat sakit untuk ku telan. Tempo irama nafasku pun mengencang. Beliau menanyakan kapan aku menikah.
Wajar. Teramat sangat wajar beliau melontarkan pertanyaan seperti itu. Maklum, semua sahabat terdekatku sudah menikah. Sudah memiliki momongan. Terakhir adalah dia yang aku saksikan pernikahannya di Lampung kemarin.
Aku terdiam. Sejenak aku hentikan gerakan jemariku yang sedang beradu dengan nasi dan lauk. Sempat terpikir untuk menghentikan makan malamku. Namun aku urungkan. Aku khawatir nasi dan lauk yang tak kuhabiskan kelak akan mengadu kepada-Nya lalu bersaksi bahwa aku mengkufuri mereka. Aku memilih menghentikan sejenak makanku. Mencoba menahan butiran-butiran hujan yang hendak menyembul dari mataku. Aku mencoba menguasai diriku sendiri.
Seorang wanita disamping bapak mencoba mengendalikan rangkaian kata-kata yang keluar dari mulut bapak. Sayup-sayup aku mendengar bahwa ia meminta bapak agar tidak semakin melebar membahas ini dengan menghujami aku dengan pertanyaan-pertanyaan serupa. Naluri seorang ibu, beliau tahu betul apa yang dirasakan anaknya. Aku tak sanggup lagi menikmati setiap butiran nasi dihadapanku. Aku terpaksa menghentikan makan malamku. Dan aku luluh.
Akhir-akhir ini aku memang sangat sensitif dengan pertanyaan semacam ini. Terlebih kali ini orang tuaku sendiri yang langsung menanyakan. Secara tersirat ini berarti permintaan. Sebagai seorang anak, mana mungkin aku sanggup menolak permintaan orangtua ku?
Aku bukan tak berusaha menjemputmu. Hanya saja aku masih meragukan diriku sendiri. Apakah aku pantas mendapatkan kepatuhan dari wanita sepertimu?
Aku merasa lemah. Sangat lemah. Engkau memang sangat asing untukku. Tapi, sedikitpun aku tak pernah meragukan keshalihahanmu. Mungkin ini alasan mengapa Dia belum mengizinkan kita bertemu. Karena aku tak setaat dirimu.
0 komentar:
Posting Komentar