Apa aku terlalu berani jika saat ini aku mendatangi ayahmu? Mungkin aku akan dianggap terlalu berani, terlalu nekad, atau bisa juga dianggap gila. Tapi tunggu dulu! Sebelum aku layak menyandang salah satu kosakata tersebut, akan aku coba telaah satu persatu.
Oke, kita mulai dari kata berani. Menurutku berani adalah saat kita melakukan sesuatu ‘DENGAN’ perhitungan. Bukan asal melangkah. Oh iya, perhatikan baik-baik kata berhuruf kapital, diapit tanda petik dan diketik dengan BIU ya.
Oke, kembali ke leptop. Sebagai contoh saat kita hendak menyeberang jalan, kita tentu akan berdoa terlebih dahulu. Lalu tengok kanan-kiri, baru setelah itu kita berani melangkah jika kita pastikan aman. Ini yang namanya berani.
Lalu nekad itu seperti apa? Nekad adalah saat kita mengambil tindakan ‘TANPA’ melibatkan Alloh dan akal kita. Maksudku tanpa diawali dengan berdoa dan tanpa mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Kita hanya mengandalkan insting.
Dalam contoh diatas, mungkin kita sudah berdoa, sudah pula tengok kanan-kiri. Kita tahu sebenarnya keadaan belum sepenuhnya aman. Namun karena hanya bermodalkan insting, kita nekad untuk tetap menyeberang. Hasilnya? Tentu fifty-fifty. Dan yang jelas Alloh tidak suka jika kita tak menggunakan akal bukan? Apalagi jika tanpa berdoa terlebih dahulu. Meskipun mungkin Alloh akan tetap melindungi kita sampai di seberang dengan selamat, tetap saja hanya mengandalkan insting tidaklah baik.
Lalu apa itu gila? Gila adalah saat kita melakukan sesuatu tapi tidak tahu bagaimana sebab dan akibatnya. Kita akan menyeberang namun tidak tahu mengapa kita menyeberang, untuk apa kita menyeberang dan bagaimana cara menyeberang yang baik. Baik di sini tentunya tidak menyebabkan murka Alloh dan tidak mengganggu sekitar. Bisa dikatakan gila adalah asal-asalan.
Okey, back to main topic. Lalu, jika saat ini aku menjemputmu, apa aku akan dianggap berani? Atau nekad? Atau bahkan gila? Sebagai manusia normal, tentu aku tak ingin dianggap gila. Jadi aku harus terlebih dahulu menyiapkan sebab dan alasan logis maupun tak logis mengapa aku harus menjemput mu.
Lalu, apa aku harus nekad untuk menjemput mu? Aku memang sedang terburu-buru. Namun aku harus selamat. Aku harus sampai di tempatmu tanpa merepotkan mu bukan? Mana mungkin aku bisa menuntunmu jika aku sendiri saja sampai disana dalam keadaan sakit-sakitan.
Jika aku ingin dicap berani, maka aku tidak boleh hanya mengandalkan insting. Aku tidak boleh hanya asal melangkah. Aku harus tahu apa sebab dan akibatnya jika aku menjemputmu. Aku harus memastikan keadaan benar-benar aman. Aku harus menjemput mu dengan cara yang baik. Dan yang paling utama, aku harus menjemput mu dengan bismillah. Aku harus terlebih dahulu meminta petunjuk kepada-Nya, jika menjemput mu adalah takdir yang harus aku jalani. Jika menjemput mu berdampak baik untuk aku, kamu dan sekitar kita, maka aku harus terlebih dahulu meminta kepada-Nya agar Dia memberiku petunjuk. Bukankah yang selamat adalah mereka yang diberi-Nya petunjuk? Maka aku harus terlebih dahulu merasa benar-benar mantap bahwa kamu adalah bidadari yang harus aku jemput. Namun jika kemantapan hati dan kekuatan serta dari-Nya tak kunjung datang, lebih baik aku urungkan saja niat untuk menjemput mu.
Perahu kertas, 11 Agustus 2016
0 komentar:
Posting Komentar